Powered By Blogger

Rabu, 01 Mei 2013

cerpen maling sandal

Maling sandal drama
by group of sebelas of 8 f

1.Kembali ke ingatan sekolah
zaman ini telah berubah orde baru pun akan dimulai tapi itu tak akan pernah berjalan lagi, ikan-ikan kecil berubah menjadi dewasa dan belajar akan gerak gerik gelombang besar seperti jua para pencuri yang belajar melawan derasnya masalah dalam keuangan mereka.
Dengan berbagai cara mereka para pencuri yang ditindas oleh lintah darat yang lebih berkuasa memaksa mereka masuk kedalam nereka hidup yang tak ada henti seperti mencopet,mencuri jemuran RT sebelah, sampai menjual anggota keluarga mereka yang masih berguna, sungguh manusia keji yang hanya menjual anaknya untuk melunasi hutang dengan cekikan dosis tinggi.
Ini kisah andi seorang anak remaja yang berumur 13 tahun dengan kaus oblong dan celana ketat bekas sekolah 2 tahun lalu, saat dia tidak bisa membayar uang ijazah dan meskipun SPP telah dibebaskan tetap saja orang tua andi tak dapat memenuhi kebutuhan belajar andi, dan menekan andi untuk membantu orang tua-nya bekerja di sawah.

o   Andi : “ aku harus mendapatkannya ,ri. Ayahku tiap berangkat dan pulang                   selalu saja bertelanjang kaki meskipun , tanah aspal yang dijemur bersuhu 45ยบ tetap saja di injak, bagaimana rasanya ,ri, apa lagi saat menginjak karang dilaut perih bukan!?”
o   Ari    : “tapi uang dari mana kita dapat beli sepatu untuk membelinya, beli                    nasi kucing aja aku harus berpikir 2 kali untuk membelinya!, aku tak mau lagi    mencopet di bis aku takut dimarahin lia lagi, apa kamu tidak takut kalau lia melaporkanmu ke ibu, dan ayahmu?”
o   Andi : “sudah tebiasa aku dimarahi , hingga ibu merasa tidak kuat lagi                          sampai ibu sakit dan lia tidak pernah memberikan informasi lagi terhadap ibuku lagi tentang penghasilanku selama 2 tahun ini!”
o   Andi : “bagaimana kita pergi kemushola dulu!”
o   Ari   : “ mau sholat jum’at ya, wah kebetulan banget aku juga mau pergi                                    kesana!”
o   Andi : “enak aja , gue udah tobat nanti di ceramahi pak lurah dengan pakaianku yang paling bagus dan dikatain kumal, gue benci, ri!”
Andi menggiring ari menuju mushola kecil dekat rumahnya , saat azan berkumandang , semua jamaah sholat jum’at memenuhi ruangan mushola dan meninggalkan alas kaki mereka didepan mushola tanpa ada yang mengawasi , hanya andi dan ari saja yang mengawasi gerak-gerik yang akan mereka jalankan, ari memprotes andi yang akan mencuri sandal-sandal para jama’ah masjid.
o   Andi : “sudah diam saja , kau tinggal jaga apa susahnya sih!, kebetulan nih                   saya ingin mengambil sandal sepatu milik pak lurah , mengerti” , teriak andi memarahi ari yang kaget mendengar teriakan andi, dan ari memanggukan kepala bertanda setuju. 

Saat semua jama’ah menjalankan sholat jum’at , andi mulai mengambil sandal para jama’ah dengan cepat sambil sesekali melirik ari yang berjaga didepan gerbang masjid dengan plastik hitam besar andi menyimpan sandal-sandal yang masih bagus dan saat mau mengambil sandal milik pak ustadt yang sudah banyak jahitan akan tambalan

Dalam hati andi “ kasihan kalau orang miskin kehilangan alas kaki yang seharga nasi kucing dengan harga murah , belum tentu dapat membeli lagi!”
Dan mulai mengambil sandal orang lain lagi.
Ari dengan cemas menjaga andi dari intipan para tentara atau maksudnya warga yang sukanya main pukul .

Setelah mendapat sandal yang masih bagus, andi menghampiri ari dan menepuk bahunya, dan meninggalkan mushola dengan berjalan santai dan andi memangkul sandal curiannya seperti tukang pemulung dengan sebatang besi yang dipegangnya sehingga warga disekitar mushola percaya bahwa andi dilewat mushola untuk memulung, setelah itu andi pergi ke pengepul untuk membeli plastik bening bekas untuk membukus sandal curiannya, saat andi memilih plastik dekat dengan buku bekas, dengan berbagai judul seperti belajar cepat matematika, asyik itu bicara bahasa inggris, hingga andi ingin mencurinya.
o   Ari : “apa kau gila , mau mencuri , di pengepul yang lebih lihai dari pada     kita, goblok!”
kata ari dengan karas memukul kepala andi sedikit keras, setelah membayar andi dan ari segera pulang dengan plastik bekas dan lilin untuk membukus sandal curian dari mushola sebelum adik andi,lia . pulang kerumah. Saat membungkus sandal curiannya andi bercerita tentang pendapatnya.
o   Andi : “lebih baik seperti ini dari pada mencopet di Bis , kena gebuk nih badan gue!”
Ari hanya tertawa mengingat kemalangan andi saat ketahuan mencuri seorang nenek tua yang berwajah peot dengan mulutnya cerewet hingga membuat andi lengah dan tak menghiraukan orang L hingga ari juga harus turun tangan membantu andi dengan mengahlihkan perhatian para penumpang didalam bis.
Jadwal yang dibuat andi gagal total karena lia adiknya pulang lebih awal dari pada hari-hari sebelumnya, dengan membawa banyak dagangan yang belum terjual seperti koran,rokok, dan makanan ringan yang dijajahkan oleh lia di jalan ramai dengan resiko tinggi.
o   Lia    : “assalammualaikum!”
o   Andi dan ari : “walaikum salamm!”
o   Lia    : “kak semua sandal itu buat apa?”
o   Andi : “untuk dijual kewarung-warung dari pak...”
o   Ari    : “kong ayong yang nyuruh kita jual semua sandal ini, lumayan dapat tambahan !”
o   Lia    : “kak kalau udah dapat upah dari kong ayong boleh tidak lia minta   sandal baru, punya lia sudah banyak yang ditambal”
Andi memandangi kaki lia yang mengenakan sandal yang memang sudah banyak ditambal ,hati andi mulai mengasihani lia
o   Andi  : “kau boleh mengambil salah satu , tapi jangan bilang ayah dan ibu   bila kakak membantu kong ayong menjual sandal-sandal ini, dan ari       dan kakak yang akan membayar sandal yang kau ambil!”
Lia menganggukkan setuju dengan senang hati lia mengambil salah satu sandal yang kebetulan itu milik pak lurah
o   Lia    : “yang ini boleh kak!?”
Andi menganggukan kepalanya bertanda iya, lalu lia mengucapkan terima kasih dan kembali kekamarnya , sebelum pergi ketempat tamannya  lia meminum segelas air putih dan pergi meninggalkan bayangannya dimata ari yang masih tak percaya bahwa andi membiarkan lia mengambil salah satu sandal curian mereka.
o   Ari   : “apa kau sungguh memberikan sandal itu untuk lia, bukannya dia      adalah musuh dalam keluargamu melakukan hal jahat sepeti in...”
o   Andi: “meskipun dia nakal dan peghianat, dia tak pernah membuat kakak   nya menjadi masalah dikeluarga ini”
o   Ari      : “oh..ya. kita akan jual kemana sandal-sandal ini? Ga mungkinkan   kita jual deket sini!”
o   Andi   : “tidaklah! Hm... kita jual yang agak jauh dari sini, dipasar senen , tadi ada yang ngeliat kita mengambil sandalnya!?”
o   Ari      : “clear... it is eis....
o   Andi   : “easy... stupid, untung aja lia ga tau kalau kita mencuri sandal - sandal ini di mushola , kan biasanya dia yang paling anti dengan    yang namanya penyimpangan dalam hukum atau apalah itu!”
o   Ari      : “tapi terkadang kata lia benar, masa kita harus terus menerus ,                    sebagai pencundang yang pengecut
Andi mulai naik darah dan memukul meja ruang tamunya dengan amarah yang meluap-luap setelah mendengar nasihat ari
o   Andi  : “ kau pikir kita makan dari mana?, mencuri bukan selama ini!                       Jika kau ingin kelaparan , kau boleh menjual koran seperti lia,                apa kau dapat memberikan uang untuk ibumu didapur? Kau pikir     aku ingin seperti ini..., jika aku bisa memilih sebelum aku lahir,                     lebih baik aku mati dari pada menjalani hidup yang tak ingin aku       inginkan meskipun aku memikirkannya selama setengah menit pun      aku ta akan ingin ini, mengerti?!”
Ari menatap andi lekat-lekat dan memalingkan muka dari andi agar amarah andi segera mencair dan mulai melanjutkan mengemasi sandal curian mereka dengan harga murah, karena mereka tak tahu harga barag sandal yang dicuri mereka.

Sebelas


Dilain tempat , jama’ah mushola kebingungan mencari sandal mereka.
o   Pak lurah : “kuampret...siapa nih yang mengambil sandal baru milikku?”
Kong ayong penjual sandal yang terkenal di kampung juga merasa resah seperti pak lurah
o   Kong ayong :  “ha...ya sandal oe, juga hilang, rugilah ,oe!”( orang cina )
Berita itu cepat tersebar keseluruh kampung dan andi mulai bergegas pergi menuju pasar senen dengan angkot , untuk mendapatkan sepatu boat untuk ayahnya.

Di jalan dagangan lia masih banyak dan lia kembali kerumahnya dan sebelum andi pergi kepasar lidia berpesan
o   Lia : “hati-hati ya kak, jangan sampai kau celaka dijalan”
Setelah andi pergi , beberapa saat kemudian ibu yani atau ibu orang tua andi dan lia pulang kerumah
o   Ibu yani : “lia, kamana kakakmu , andi ?”
o   Lia   : “owh .... pergi kepasar bu atau mau pergi mancing!”
o   Ibu yani : “sejak kapan andi suka memancing lagian andi tidak bisa                         berenang?”
o   Lia   : “ tidak tahu ,bu. Lia berangkat dulu, masih banyak dagangan lia!”
o   Ibu yani : “iya, hati-hati ya, kalo ibu sudah punya uang banyak, ibu akan                 menyekolahkan kamu lagi, mau kan?”
Lidia tersenyum mendengar berita dari ibunya dan meganggukan kepala dengan senyum bahagianya lalu mencium tangan ibunya dan pergi kejalan raya menjajakan dagangannya.

Andi dan ari berjalan dengan cepat menuju pasar senen bagian pasar loak, disana mereka menggelar tikar dan menjajakan semua curiannya tanpa rasa takut sedikitpun, dengan meneriakan dagangnya dan ada salah satu pengunjung yang datang mendekati andi dan ari

o   Setyo  : “yah..aku ingin beli sandal baru itu!”
 Setyo adalah adik kelas andi 2 tahun lalu, ayah setyo memandangi andi dan ari dengan iba dan mulai merubah posisi tubuhnya dengan jongkok untuk bertanya harga sandal yang diinginkan setyo,  dan andi menjawab. Ayah setyo bertanya satu pertanyaan lagi
o   Ayah setyo : “ maaf, menyinggu kalian nih. Mengapa kalian berjualan di pasar senen                      ini, bukannya ini jam sekolah?”
Bayangan andi yang terkurung selama 2 tahun ini mulai muncul dan membuat perih hatinya dalam menghadapi hidup ini,ari menatap andi sejenak dan menatap andi lekat-lekat , lalu menjawab pertanyaan ayahnya setyo
o   Ari  : “kami tidak membolos,pak. Kami berdua tidak mempunyai biaya untuk sekolah,       lalu bapak jadi tidak membeli sandal kami?”
Ayah setyo memberikan uangnya dan menerima sandal curian mereka berdua dan berlalu bersama setyo. Andi masih merenungkan ucapan ayah setyo yang pernah dilihanya saat bersekolah 2 tahun lalu, ari mengerti apa yang direnungi andi.
o   Andi : “sekolah... apa itu tempatku? Untuk sekarang ini!” gumamnya dalam hati.

Sebelas

2.Terbakar dan redup kembali
Sepulang dari pasar senen , andi dan ari masih menenteng banyak sandal-sandal curian mereka, semua pengunjung di pasar senen sepertinya sudah punya sandal semua, pikir ari.
Namun dipikiran andi itu,hanya kata sekolah....
Apakah itu tempat andi untuk sekarang yang miskin, melarat dan kere.
Sedari tadi andi terlihat gelisah dan tidak berselara melakukan sesuatu dan dapat diketahui ari, temannya.
o   Ari   : “ Andi , kenapa wajahmu seperti menyimpan beban yang berat, apa itu ?”
Andi menggelengkan kepala
o   Andi : “ tidak,ri. Aku hanya saja merasa bingung dengan kata sekolah, sepertinya              tempat yang selalu aku kunjungi setiap pagi tapi semua ingatan itu hilang                       begitu saja dari kepalaku.”
o   Ari : “ Apakah kau merasa tersakit oleh bapak-bapak tua itu, nanti akan kubalas dia”
Kata ari seraya mengepalkan tangannya dan andi tersenyum melihat tingkah laku ari yang menyenangkan hatinya.lalu mereka pulang kerumah masing-masing. Andi menemui ayahnya yang baru pulang kerja setelah bekerja sebagai pengepul tripang dipinggir kota jakarta.
o   Andi : “ Bagaimana kerja ayah hari ini?”
o   Ayah : “ Baik ,nak . dari mana saja kamu baru pulang saat maghrib seperti ini!”
o   Andi : “ pergi kerumah jaka ,yah!”
o   Ayah : “ lho, kok beda banget dengan perkataan lia, katanya kamu pergi mencing              dikali sieng padahal kamu ga bisa berenang ,tapi kok ayah ga ngeliat kamu!”
o   Andi : “tadi siang memang aku mancing sama ari terus diundang makan siang disana”
o   Ayah : “ emang ada acara apa , ari ngundang kamu makan siang disana, bukannya             ibu ari sedang sakit?”
o   Andi : “iya, yah. Soalnya tadi hanya sedikit dapat ikan lalu aku makan sama ari!”
o   Ibu   : “kenapa, dimakan disana semua, kenapa kamu ga bawa pulang saja, padahal            ibu ingin sekali makan ikan hari ini, dan ikan dipasar semuanya naik”

Andi tertawa karena takut dimarahi ibunya, dan langsung ingin bertemu dengan lia , adiknya.
o   Andi : “ Lia, kenapa kamu bilang aku pergi mancing, bukannya aku ga bisa renang!?”
o   Lia : “hehehe... lia ga tau mau bilang apa, kan lia ga pernah bohong sama ayah dan ibu kalau tidak ada sandal yang bagus ini!”
o   Andi : “ kamu ini!”
Kata andi dengan mengangkat tangannya hendak memukul tangan li dengan ringan tapi seruan ibu mereka, menyadarkan andi untuk makan malam, karena perut telah meminta ingin di isi malam ini, keluarga andi hanya makan sepiring naskem ( nasi kemarin) dengan sepotong tempe dan sepotong ikan teri.
Sebelum tidur andi masih berkhayal tentang sekolah dan berbicara dengan lia adiknya.
o   Andi : “lia, apakah kau tau sekolah itu apa?”
o   Lia : “hahaha.. masa ga tau dulukan kakak pernah sekolah 6 tahun dan benci kepada          semua guru karena tidak bisa melunasi ijazah dan membenci sekolah!”
o   Andi : “ iya tapi apakah kakak boleh sekolah lagi?”
o   Lia : “ya ga lah kecuali ayah dan ibu punya uang banyak beli baju yang harganya               25000  saja tak mampu apa lagi mau nyekolahkan kita!”
Andi terdiam dan menatap langit-langit rumahnya dan menutup matanya rapat-rapat untuk tidur dengan menyimpan sedikit tenaga karena menjual sandal-sandal dipasar dan tak laku.

Keesokan andi pergi kepasar senen dan melewati sekolah SD 6 tempat dimana dia sering belajar dan bermain, saat didepan gerbang andi menatap anak-anak yang sedang bermain bola dengan riang, satpam SD 6 itu juga melihat andi dan menghampirinya.
o   Pak sus : “ada apa, nak. ?”
o   Andi : “oh tidak apa-apa.pak sus!”
o   Pak susu : “dari mana kamu tau namaku padahal badge belum pernah kupakai?”
o   Andi : “bapak , masa tidak kenal denganku! Aku andi ,pak! 2 tahun lalu aku masih            sekolah disini!”
Pak sus menatap andi lekat-lekat dan mengingat ingatannya yang selalu pelupa
o   Pak sus : “kamu,ndi. Apa kabar kamu mau masuk!”
o   Andi : “terima kasih pak”
o   Pak sus : “ kamu SMP Negeri mana, bapak sepertinya ga pernah lihat kamu lagi”
andi menggelengkan kepala dengan wajah lesu karena malu
o   Pak sus : “jadi kamu tidak sekolah lagi, padahal prestasi dikelas kamu nomer satu,              sangat disayangkan jika putus dititik awal!”
Hati andi yang ingin sekolah membara mendengar kata-kata indah dari pak sus dan berterima kasih dan meninggalkan pak satpam yang masih dalam gerbang sekolah
o   Pak sus : “ terima kasih untuk apa?”
Dengan kebingungan yang tinggalkan andi , and berlari menuju pasar senen dan menemui ari yang sudah menggelar tikar untuk berjualan.
o   Ari : “dari mana saja kamu , ndi?”
o   Andi : “ aku pengen sekolah,ri! Dari pada aku melakukan jahat ini lagi!”
ari dengan cepat menutup mulut andi dengan cepat, ‘kau ingin ketahuan ya?’ bisik ari ditelinga andi, andi tersadar dan mendengar ucapan lia tadi malam
ya ga lah kecuali ayah dan ibu punya uang banyak beli baju yang harganya            25 ribu saja tak mampu apa lagi mau nyekolahkan kita
o   Ari : “ kau ini kenapa sih?”, andi menggelelngkan kepala dan amarah dalam ingin sekolah meredup kembali seperti semula.

3.Akan terjadi
Sandal curian andi telah terjual banyak hanya 4 pasang saja yang tersisa dibakulan andi.
o   Ari : “hari ini kita laris manis ya!”
o   Andi : “iya”
o   Ari : “ ayo kita beli sepatu but untuk ayah kamu!”
o   Andi : “tapi bukannya ibu kamu sedang sakit,ri!”
o   Ari : “tenang saja , ibuku baik-baik saja , paling hanya sakit kepala!”
o   Andi : lebih baik uang itu kamu pakai dulu!”
o   Ari : “jangan katanya kamu ingin membelikan ayah kamu sepatu but!”
o   Andi : “ kalau kamu ga mau uang ini kita bagi dua, aku akan beli yang bekas saja!”
Ari menatap andi terharu dengan menahan air matanya itu.
Saat pulang , matahri siang telah membakar kulit andi dn ari yang sudah berwarna coklat kehitam-hitaman , andi sengaja tak memilih jalan pada saat berangkat kepasar tadi untuk menghindari ingatannya saat bersekolah dulu.
Tapi jalan yang dipilih andipun melewati sekolah lain juga, tapi tak apa lah bisik andi dalam hati, saat melewati SMPN 2 dan banyak anak-anak yang sedang berolah raga dilapangan basket depan sekolah itu,  andi mentap salah satu dari mereka, gadis . seorang gadis yang menawan hati yang sedang dilirik andi dengan pakaian olah raga yang sedikit menyatu dengan rambut pendek gadis itu hingga andi lupa diri dan terjatuh.
o   Ari : “kau kenapa sampai jatuh,bodoh !?”
o   Andi : “tidak ada apa-apa, hanya saja siapa cwek itu?”
Andi menunjuk gadis yang diliriknya dan ari mengikuti arah telunjuk andi dan tesrenyum geli
o   Ari : “ oh... dia anaknya kong ayong , jadi kau jatuh gara-gara melihat dia ya!hahaha”
o   Andi : “enak saja! Tapi mungkin saja!?”
Ari membantu andi untuk bangun, dan berjalan bersama-sama menuju rumah masing-masing. Kebetulan sore ini lia pulang sedikit terlambat , dan andi duduk didepan rumah menunggu kepulangan lia kerumah. Beberapa saat lia datang bersama seorang perempuan, berambut pendek seperti anak kong ayong, andi kira salah lihat ternyata benar anak kong akyong.
o   Lia : “ Assalammualaikum!”
o   Andi : “walaikumsalammm!” sambil menatap anak kong ayong.
o   Lia : “kak kenalkan ini , sintia, dia anaknya kong ayong, shintia kenalkan ini kakakku        andi !”
Shintia menyalami tangan andi dengan tersenyum senang, tapi yang dirasakan andi hanya kemaluan yang luar biasa tangannya berkeringat sambil mengucapkan nama lengkapnya
o   Andi : “ muhammad andi sugi. Salam kenal”
o   Shintia : “shintia ananda”
o   Lia : “shintia, apakah kau ingin bermain dirumahku!?”
o   Shintia : “maaf tapi aku punya acara malam ini, maaf ya! Lia. Kapan-kapan saja deh!”
Lia menganggukan kepala dan shintia pergi mengundurkan diri untuk pulang , dan andi menatap kepergian shintia dengan antusias. Sampai shintia hilang dibelokan gang. Lia menatap andi yang masih memperhatikan kepulangan shintia.
o   Lia : “kak , kau kenapa menatap shintia sampai begitu?”
o   Andi : “tidak ada apa-apa, mungkin nanti ada uang yang tercecer, bukannya kong              ayong itu kaya, mungkin  saja anaknya membawa banyak uang !”
Lia tertawa mendnegar lelucon andi, andi bernafas lega karena dia tak ketahuan oleh andi, tapi andi masih penasaran dengan anak kong ayong dan bertanya berbagai macam pertanyaan tentang shintia.
o   Andi : “menurut kamu anaknya kong ayong itu baik tidak?”
o   Lia : “dia sangat baik dan tidak pelit dengan orang sekitar seperti ayahnya!”
o   Andi : “lalu dia anaknya ,sekolah tidak?”
o   Lia : “tentu saja kan dia kaya, katanya kalau orang miskin mau bersekolah , pasti                orang itu akan jadi orang sukses di masa depan , dan dia selalu menjadi anak     nomer satu disekolah karena kepintarannya dan kecantikannya!”
o   Andi : “jadi dia suka cowok yang sekolah dan pintar ya..”
o   Lia : “apa kak?”
o   Andi : “tidak apa-apa!”
Hampir saja andi keceplosan karena masih teringat dengan shintia.
Saat maghrib tiba keluarga andi sholat berjamaah diruang tamu, lalu andi menatap langit malam dengan kaos oblong tipis. Bintang-bintang membentuk wajah shintia, dalam pikiran andi bagaimana cara agar dirinya mendekati anak kong ayong, sekolah tempat dimana andi dapat bertemu dengan anak kong ayong.
Beberapa hari ini andi mendekati shintia, dan konga ayong belum mengetahui apa yang dilakukan andi saat mendekati shintia, seperti memberi bantuan shintia, bunga, permen coklat saat anak kong ayong marahan dengannya.
Andi mengetahui banyak hal dari shintia dan andi ingin belajar seperti shintia, dan andi sudah membeli sepatu but untuk ayahnya, ayahnya pertama curiga bahwa andi mencuri sandal-sandal dimasjid untuk membeli sepatu but tapi andi meyakinkan bahwa dia hanya mengamen tanpa makan siang.
Saat ibu andi sudah pulang andi mendekati ibunya dan mengatakan pikiran andi saat ini
o   Andi : “ibu aku ingin sekolah!” desahnya, ibunya kaget setengah mati
o   Ibu : “apa kau ingin sekolah,bukannya dulu kau sangat benci sekolah, apa lagi        melihat sekolah saja tidak ingin, kok sekarang!?”
o   Andi : “aku ingin mengangkat derajat keluarga kita ,bu ! aku tak ingin seperti ini                terus selama hidupku, berpanasan dibawah sinar matahari yang panas sekali”
o   Ibu : “jika ibu punya uang ibu pasti akan kabulkan permohonan kecilmu ini , ibu                 sangat ingin melihat anak ibu kerja digedung bertingkat dengan fasilitas ac”
Andi menatap ibunya yang hampir menangis, dan mendesah aku tak akan kecewakan ibu lagi, aku janji. Ibu andi mendengar samar-samar dan andi meninggalkan ibunya yang menanggis menahan kemarahan kemisinan dengan keinginan.
Beberapa hari ini pak lurah dan kawan-kawan (karyawan dikelurahan), mencari pencuri sandal yang sudah 1 minggu ini belum diketahui , kong ayong juga membantu pak lurah mencari pencuri sandal padahal kong ayong ingin menyingkirkannya saja, kan kalau sandal-sandal itu dijual jadi saingan kong ayong.
Saat setyo bermain dengan adik shintia atau anak kong ayong yang ke-4 , yang sudah berumur 12 tahun , dan melihat sandal yang dikenakan setyo, dan bertanya dari mana setyo membeli sandal itu, dan memberitahukan kepada kong ayong
o   Santio : “ ayah , aku melihat sandal mirip dengan ayah, dan digunakan oleh setyo”
o   Kong ayong : “benarkah...? apa kau tidak bohong?”
o   Santio : “ sejak kapan , tio membohongi ayah. Dan kata setyo sandal itu beli di andi,          emang andi punya uang untuk modal ini seperti menjual sandal bagus kecuali   dari mencuri ,yah!”
o   Kong ayong : “ tapi apa kau punya bukti?”
santio menggelengkan kepala, kong ayong melihat tatapan anaknya takut bersalah, kong ayong mulai menaruh kecurigaan pada andi.
Keesokannya kong ayong mendatangi rumah andi dengan setyo dan sandal yang dibeli olehnya dari andi, dimana hanya ada ibunya andi dan lia, ibu yani lalu ia mulai menceritakan segala hal yang telah dilakukan , setyo tak tahu menahu apa yang terjadi namun kong ayong membenarkan bahwa sandal ini yang dibeli dari andi adalah sandal kepunyaannya yang ada ini sial K.A (kong ayong maksudnya). Ibu yani menahan malu sesaat dan saat lia pulang, ia langsung memberi perintah padanya untuk memanggil andi secepatnya saat itu juga.
Dengan sekuat tenaga lia mencari beberapa jam lalu ia menanyakan orang-orang disekitarnya yang melihat andi siang itu, ternyata andi berada dipasar dengan ari yang sedang menjual sandal-sandal curian. Lia langsung meminta andi pulang kerumahnya atau tidak ibu akan marah.
Dirumah ibu langsung menampar pipi andi.
o   Ibu yani : “kau ini kenapa melakukan itu?, memang kita ini miskin tapi jangan sampailah kau mencuri ataupun menghakimi orang lain!”
o   Andi : “ibu maafkan aku, aku sungguh ...!”
o   Ibu yani : “diam... kau tak berhak berbicara, kau ini manusia bodoh dan ini semua salah ibu, kong ayong terserahlah kau apakan anak ini. aku sudah tak kuat mendidiknya lagi!”
o   Kong ayong : “sebaiknya nak andi mengembalikan sisa sandal curian, nak andi. Karena saya tidak tega membawa andi ke polisi. Dan saya harap nak andi mau berubah dan saya akan membantu ibu yani mendidiknya!”
o   Ibu yani : “terima kasih kong ayong , saya sungguh akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mendidiknya sebaik-baiknya lagi”
Andi merasakan malu yang luar biasa dan menyuruh ari untuk mengembalikan sandalnya secara diam-diam kepada pemilik semula, karena andi tak ingin wajahnya tercoreng lagi dengan perbuatan yang merugikannya itu.



Tidak ada komentar: