Maling sandal drama
by group of sebelas of 8 f
1.Kembali
ke ingatan sekolah
zaman ini telah berubah
orde baru pun akan dimulai tapi itu tak akan pernah berjalan lagi, ikan-ikan
kecil berubah menjadi dewasa dan belajar akan gerak gerik gelombang besar
seperti jua para pencuri yang belajar melawan derasnya masalah dalam keuangan
mereka.
Dengan berbagai cara
mereka para pencuri yang ditindas oleh lintah darat yang lebih berkuasa memaksa
mereka masuk kedalam nereka hidup yang tak ada henti seperti mencopet,mencuri
jemuran RT sebelah, sampai menjual anggota keluarga mereka yang masih berguna,
sungguh manusia keji yang hanya menjual anaknya untuk melunasi hutang dengan
cekikan dosis tinggi.
Ini kisah andi seorang
anak remaja yang berumur 13 tahun dengan kaus oblong dan celana ketat bekas
sekolah 2 tahun lalu, saat dia tidak bisa membayar uang ijazah dan meskipun SPP
telah dibebaskan tetap saja orang tua andi tak dapat memenuhi kebutuhan belajar
andi, dan menekan andi untuk membantu orang tua-nya bekerja di sawah.
o
Andi : “ aku harus mendapatkannya ,ri.
Ayahku tiap berangkat dan pulang selalu
saja bertelanjang kaki meskipun , tanah aspal yang dijemur bersuhu 45ยบ tetap
saja di injak, bagaimana rasanya ,ri, apa lagi saat menginjak karang dilaut
perih bukan!?”
o
Ari
: “tapi uang dari mana kita dapat beli sepatu untuk membelinya, beli nasi kucing aja aku harus
berpikir 2 kali untuk membelinya!, aku tak mau lagi mencopet di bis aku takut dimarahin lia
lagi, apa kamu tidak takut kalau lia melaporkanmu ke ibu, dan ayahmu?”
o
Andi : “sudah tebiasa aku dimarahi ,
hingga ibu merasa tidak kuat lagi sampai
ibu sakit dan lia tidak pernah memberikan informasi lagi terhadap ibuku lagi
tentang penghasilanku selama 2 tahun ini!”
o
Andi : “bagaimana kita pergi kemushola
dulu!”
o
Ari
: “ mau sholat jum’at ya, wah kebetulan banget aku juga mau pergi kesana!”
o
Andi : “enak aja , gue udah tobat nanti
di ceramahi pak lurah dengan pakaianku yang paling bagus dan dikatain kumal,
gue benci, ri!”
Andi menggiring ari menuju mushola kecil dekat
rumahnya , saat azan berkumandang , semua jamaah sholat jum’at memenuhi ruangan
mushola dan meninggalkan alas kaki mereka didepan mushola tanpa ada yang
mengawasi , hanya andi dan ari saja yang mengawasi gerak-gerik yang akan mereka
jalankan, ari memprotes andi yang akan mencuri sandal-sandal para jama’ah
masjid.
o
Andi : “sudah diam saja , kau tinggal
jaga apa susahnya sih!, kebetulan nih saya
ingin mengambil sandal sepatu milik pak lurah , mengerti” , teriak andi
memarahi ari yang kaget mendengar teriakan andi, dan ari memanggukan kepala
bertanda setuju.
Saat
semua jama’ah menjalankan sholat jum’at , andi mulai mengambil sandal para
jama’ah dengan cepat sambil sesekali melirik ari yang berjaga didepan gerbang
masjid dengan plastik hitam besar andi menyimpan sandal-sandal yang masih bagus
dan saat mau mengambil sandal milik pak ustadt yang sudah banyak jahitan akan
tambalan
Dalam
hati andi “ kasihan kalau orang miskin kehilangan alas kaki yang seharga nasi
kucing dengan harga murah , belum tentu dapat membeli lagi!”
Dan
mulai mengambil sandal orang lain lagi.
Ari
dengan cemas menjaga andi dari intipan para tentara atau maksudnya warga yang
sukanya main pukul .
Setelah
mendapat sandal yang masih bagus, andi menghampiri ari dan menepuk bahunya, dan
meninggalkan mushola dengan berjalan santai dan andi memangkul sandal curiannya
seperti tukang pemulung dengan sebatang besi yang dipegangnya sehingga warga
disekitar mushola percaya bahwa andi dilewat mushola untuk memulung, setelah
itu andi pergi ke pengepul untuk membeli plastik bening bekas untuk membukus
sandal curiannya, saat andi memilih plastik dekat dengan buku bekas, dengan
berbagai judul seperti belajar cepat matematika, asyik itu bicara bahasa
inggris, hingga andi ingin mencurinya.
o
Ari : “apa kau gila , mau mencuri , di
pengepul yang lebih lihai dari pada kita,
goblok!”
kata ari dengan karas
memukul kepala andi sedikit keras, setelah membayar andi dan ari segera pulang
dengan plastik bekas dan lilin untuk membukus sandal curian dari mushola
sebelum adik andi,lia . pulang kerumah. Saat membungkus sandal curiannya andi
bercerita tentang pendapatnya.
o
Andi : “lebih baik seperti ini dari pada
mencopet di Bis , kena gebuk nih badan gue!”
Ari hanya tertawa
mengingat kemalangan andi saat ketahuan mencuri seorang nenek tua yang berwajah
peot dengan mulutnya cerewet hingga membuat andi lengah dan tak menghiraukan
orang L
hingga ari juga harus turun tangan membantu andi dengan mengahlihkan perhatian
para penumpang didalam bis.
Jadwal yang dibuat andi
gagal total karena lia adiknya pulang lebih awal dari pada hari-hari
sebelumnya, dengan membawa banyak dagangan yang belum terjual seperti
koran,rokok, dan makanan ringan yang dijajahkan oleh lia di jalan ramai dengan
resiko tinggi.
o
Lia
: “assalammualaikum!”
o
Andi dan ari : “walaikum salamm!”
o
Lia
: “kak semua sandal itu buat
apa?”
o
Andi : “untuk dijual kewarung-warung
dari pak...”
o
Ari
: “kong ayong yang nyuruh kita jual semua sandal ini, lumayan dapat tambahan !”
o
Lia
: “kak kalau udah dapat upah dari kong ayong boleh tidak lia minta sandal baru, punya lia sudah banyak yang
ditambal”
Andi memandangi kaki lia yang mengenakan
sandal yang memang sudah banyak ditambal ,hati andi mulai mengasihani lia
o
Andi
: “kau boleh mengambil salah satu , tapi jangan bilang ayah dan ibu bila kakak membantu kong ayong menjual
sandal-sandal ini, dan ari dan kakak
yang akan membayar sandal yang kau ambil!”
Lia menganggukkan setuju dengan
senang hati lia mengambil salah satu sandal yang kebetulan itu milik pak lurah
o
Lia
: “yang ini boleh kak!?”
Andi menganggukan kepalanya
bertanda iya, lalu lia mengucapkan terima kasih dan kembali kekamarnya ,
sebelum pergi ketempat tamannya lia
meminum segelas air putih dan pergi meninggalkan bayangannya dimata ari yang
masih tak percaya bahwa andi membiarkan lia mengambil salah satu sandal curian
mereka.
o
Ari
: “apa kau sungguh memberikan sandal itu untuk lia, bukannya dia adalah musuh dalam keluargamu melakukan hal
jahat sepeti in...”
o
Andi: “meskipun dia nakal dan peghianat,
dia tak pernah membuat kakak nya menjadi
masalah dikeluarga ini”
o
Ari
: “oh..ya. kita akan jual kemana sandal-sandal ini? Ga mungkinkan kita jual deket sini!”
o
Andi
: “tidaklah! Hm... kita jual yang agak jauh dari sini, dipasar senen , tadi
ada yang ngeliat kita mengambil sandalnya!?”
o
Ari
: “clear... it is eis....”
o
Andi
: “easy... stupid, untung aja
lia ga tau kalau kita mencuri sandal - sandal ini di mushola , kan biasanya dia
yang paling anti dengan yang namanya
penyimpangan dalam hukum atau apalah itu!”
o
Ari
: “tapi terkadang kata lia benar, masa kita harus terus menerus , sebagai pencundang yang
pengecut
Andi mulai naik darah dan memukul
meja ruang tamunya dengan amarah yang meluap-luap setelah mendengar nasihat ari
o
Andi
: “ kau pikir kita makan dari mana?, mencuri bukan selama ini! Jika kau ingin kelaparan
, kau boleh menjual koran seperti lia, apa
kau dapat memberikan uang untuk ibumu didapur? Kau pikir aku ingin seperti ini..., jika aku bisa
memilih sebelum aku lahir, lebih
baik aku mati dari pada menjalani hidup yang tak ingin aku inginkan meskipun aku memikirkannya
selama setengah menit pun aku ta akan
ingin ini, mengerti?!”
Ari
menatap andi lekat-lekat dan memalingkan muka dari andi agar amarah andi segera
mencair dan mulai melanjutkan mengemasi sandal curian mereka dengan harga
murah, karena mereka tak tahu harga barag sandal yang dicuri mereka.
Sebelas
Dilain tempat , jama’ah mushola
kebingungan mencari sandal mereka.
o
Pak lurah : “kuampret...siapa nih yang
mengambil sandal baru milikku?”
Kong ayong penjual sandal yang
terkenal di kampung juga merasa resah seperti pak lurah
o
Kong ayong : “ha...ya sandal oe, juga hilang, rugilah
,oe!”( orang cina )
Berita
itu cepat tersebar keseluruh kampung dan andi mulai bergegas pergi menuju pasar
senen dengan angkot , untuk mendapatkan sepatu boat untuk ayahnya.
Di
jalan dagangan lia masih banyak dan lia kembali kerumahnya dan sebelum andi
pergi kepasar lidia berpesan
o
Lia : “hati-hati ya kak, jangan sampai
kau celaka dijalan”
Setelah andi pergi , beberapa saat
kemudian ibu yani atau ibu orang tua andi dan lia pulang kerumah
o
Ibu yani : “lia, kamana kakakmu , andi
?”
o
Lia
: “owh .... pergi kepasar bu atau mau pergi mancing!”
o
Ibu yani : “sejak kapan andi suka
memancing lagian andi tidak bisa berenang?”
o
Lia
: “ tidak tahu ,bu. Lia berangkat dulu, masih banyak dagangan lia!”
o
Ibu yani : “iya, hati-hati ya, kalo ibu
sudah punya uang banyak, ibu akan menyekolahkan
kamu lagi, mau kan?”
Lidia
tersenyum mendengar berita dari ibunya dan meganggukan kepala dengan senyum bahagianya
lalu mencium tangan ibunya dan pergi kejalan raya menjajakan dagangannya.
Andi
dan ari berjalan dengan cepat menuju pasar senen bagian pasar loak, disana
mereka menggelar tikar dan menjajakan semua curiannya tanpa rasa takut
sedikitpun, dengan meneriakan dagangnya dan ada salah satu pengunjung yang
datang mendekati andi dan ari
o
Setyo
: “yah..aku ingin beli sandal baru itu!”
Setyo adalah adik kelas andi 2 tahun lalu,
ayah setyo memandangi andi dan ari dengan iba dan mulai merubah posisi tubuhnya
dengan jongkok untuk bertanya harga sandal yang diinginkan setyo, dan andi menjawab. Ayah setyo bertanya satu
pertanyaan lagi
o
Ayah setyo : “ maaf, menyinggu kalian
nih. Mengapa kalian berjualan di pasar senen ini,
bukannya ini jam sekolah?”
Bayangan andi yang
terkurung selama 2 tahun ini mulai muncul dan membuat perih hatinya dalam
menghadapi hidup ini,ari menatap andi sejenak dan menatap andi lekat-lekat ,
lalu menjawab pertanyaan ayahnya setyo
o
Ari
: “kami tidak membolos,pak. Kami berdua tidak mempunyai biaya untuk
sekolah, lalu bapak jadi tidak
membeli sandal kami?”
Ayah setyo memberikan
uangnya dan menerima sandal curian mereka berdua dan berlalu bersama setyo.
Andi masih merenungkan ucapan ayah setyo yang pernah dilihanya saat bersekolah
2 tahun lalu, ari mengerti apa yang direnungi andi.
o
Andi : “sekolah... apa itu tempatku?
Untuk sekarang ini!” gumamnya dalam hati.
Sebelas
2.Terbakar dan
redup kembali
Sepulang
dari pasar senen , andi dan ari masih menenteng banyak sandal-sandal curian mereka,
semua pengunjung di pasar senen sepertinya sudah punya sandal semua, pikir ari.
Namun
dipikiran andi itu,hanya kata sekolah....
Apakah
itu tempat andi untuk sekarang yang miskin, melarat dan kere.
Sedari
tadi andi terlihat gelisah dan tidak berselara melakukan sesuatu dan dapat
diketahui ari, temannya.
o
Ari
: “ Andi , kenapa wajahmu seperti menyimpan beban yang berat, apa itu ?”
Andi menggelengkan
kepala
o
Andi : “ tidak,ri. Aku hanya saja merasa
bingung dengan kata sekolah, sepertinya tempat
yang selalu aku kunjungi setiap pagi tapi semua ingatan itu hilang begitu saja dari
kepalaku.”
o
Ari : “ Apakah kau merasa tersakit oleh
bapak-bapak tua itu, nanti akan kubalas dia”
Kata ari seraya mengepalkan tangannya dan andi
tersenyum melihat tingkah laku ari yang menyenangkan hatinya.lalu mereka pulang
kerumah masing-masing. Andi menemui ayahnya yang baru pulang kerja setelah
bekerja sebagai pengepul tripang dipinggir kota jakarta.
o
Andi : “ Bagaimana kerja ayah hari ini?”
o
Ayah : “ Baik ,nak . dari mana saja kamu
baru pulang saat maghrib seperti ini!”
o
Andi : “ pergi kerumah jaka ,yah!”
o
Ayah : “ lho, kok beda banget dengan
perkataan lia, katanya kamu pergi mencing dikali
sieng padahal kamu ga bisa berenang ,tapi kok ayah ga ngeliat kamu!”
o
Andi : “tadi siang memang aku mancing
sama ari terus diundang makan siang disana”
o
Ayah : “ emang ada acara apa , ari
ngundang kamu makan siang disana, bukannya ibu
ari sedang sakit?”
o
Andi : “iya, yah. Soalnya tadi hanya
sedikit dapat ikan lalu aku makan sama ari!”
o
Ibu
: “kenapa, dimakan disana semua, kenapa kamu ga bawa pulang saja,
padahal ibu ingin sekali makan
ikan hari ini, dan ikan dipasar semuanya naik”
Andi tertawa karena takut dimarahi ibunya, dan
langsung ingin bertemu dengan lia , adiknya.
o
Andi : “ Lia, kenapa kamu bilang aku
pergi mancing, bukannya aku ga bisa renang!?”
o
Lia : “hehehe... lia ga tau mau bilang
apa, kan lia ga pernah bohong sama ayah dan ibu
kalau tidak ada sandal yang bagus ini!”
o
Andi : “ kamu ini!”
Kata andi dengan mengangkat tangannya hendak memukul
tangan li dengan ringan tapi seruan ibu mereka, menyadarkan andi untuk makan
malam, karena perut telah meminta ingin di isi malam ini, keluarga andi hanya
makan sepiring naskem ( nasi kemarin) dengan sepotong tempe dan sepotong ikan
teri.
Sebelum tidur andi masih berkhayal tentang sekolah
dan berbicara dengan lia adiknya.
o
Andi : “lia, apakah kau tau sekolah itu
apa?”
o
Lia : “hahaha.. masa ga tau dulukan
kakak pernah sekolah 6 tahun dan benci kepada semua
guru karena tidak bisa melunasi ijazah dan membenci sekolah!”
o
Andi : “ iya tapi apakah kakak boleh
sekolah lagi?”
o
Lia : “ya ga lah kecuali ayah dan ibu
punya uang banyak beli baju yang harganya 25000 saja tak mampu apa lagi mau nyekolahkan kita!”
Andi terdiam dan menatap langit-langit rumahnya dan
menutup matanya rapat-rapat untuk tidur dengan menyimpan sedikit tenaga karena
menjual sandal-sandal dipasar dan tak laku.
Keesokan andi pergi kepasar senen dan melewati
sekolah SD 6 tempat dimana dia sering belajar dan bermain, saat didepan gerbang
andi menatap anak-anak yang sedang bermain bola dengan riang, satpam SD 6 itu
juga melihat andi dan menghampirinya.
o
Pak sus : “ada apa, nak. ?”
o
Andi : “oh tidak apa-apa.pak sus!”
o
Pak susu : “dari mana kamu tau namaku
padahal badge belum pernah kupakai?”
o
Andi : “bapak , masa tidak kenal
denganku! Aku andi ,pak! 2 tahun lalu aku masih sekolah disini!”
Pak sus menatap andi lekat-lekat dan mengingat
ingatannya yang selalu pelupa
o
Pak sus : “kamu,ndi. Apa kabar kamu mau
masuk!”
o
Andi : “terima kasih pak”
o
Pak sus : “ kamu SMP Negeri mana, bapak
sepertinya ga pernah lihat kamu lagi”
andi menggelengkan kepala dengan wajah lesu karena
malu
o
Pak sus : “jadi kamu tidak sekolah lagi,
padahal prestasi dikelas kamu nomer satu, sangat
disayangkan jika putus dititik awal!”
Hati andi yang ingin sekolah membara mendengar
kata-kata indah dari pak sus dan berterima kasih dan meninggalkan pak satpam
yang masih dalam gerbang sekolah
o
Pak sus : “ terima kasih untuk apa?”
Dengan kebingungan yang tinggalkan andi , and
berlari menuju pasar senen dan menemui ari yang sudah menggelar tikar untuk
berjualan.
o
Ari : “dari mana saja kamu , ndi?”
o
Andi : “ aku pengen sekolah,ri! Dari
pada aku melakukan jahat ini lagi!”
ari dengan cepat menutup mulut andi dengan cepat,
‘kau ingin ketahuan ya?’ bisik ari ditelinga andi, andi tersadar dan mendengar
ucapan lia tadi malam
ya
ga lah kecuali ayah dan ibu punya uang banyak beli baju yang harganya 25 ribu saja tak mampu apa lagi mau
nyekolahkan kita
o
Ari : “ kau ini kenapa sih?”, andi
menggelelngkan kepala dan amarah dalam ingin sekolah meredup kembali seperti
semula.
3.Akan terjadi
Sandal curian andi telah terjual banyak hanya 4
pasang saja yang tersisa dibakulan andi.
o
Ari : “hari ini kita laris manis ya!”
o
Andi : “iya”
o
Ari : “ ayo kita beli sepatu but untuk
ayah kamu!”
o
Andi : “tapi bukannya ibu kamu sedang
sakit,ri!”
o
Ari : “tenang saja , ibuku baik-baik
saja , paling hanya sakit kepala!”
o
Andi : lebih baik uang itu kamu pakai
dulu!”
o
Ari : “jangan katanya kamu ingin
membelikan ayah kamu sepatu but!”
o
Andi : “ kalau kamu ga mau uang ini kita
bagi dua, aku akan beli yang bekas saja!”
Ari menatap andi terharu dengan menahan air matanya
itu.
Saat pulang , matahri siang telah membakar kulit
andi dn ari yang sudah berwarna coklat kehitam-hitaman , andi sengaja tak
memilih jalan pada saat berangkat kepasar tadi untuk menghindari ingatannya
saat bersekolah dulu.
Tapi jalan yang dipilih andipun melewati sekolah
lain juga, tapi tak apa lah bisik andi dalam hati, saat melewati SMPN 2 dan
banyak anak-anak yang sedang berolah raga dilapangan basket depan sekolah
itu, andi mentap salah satu dari mereka,
gadis . seorang gadis yang menawan hati yang sedang dilirik andi dengan pakaian
olah raga yang sedikit menyatu dengan rambut pendek gadis itu hingga andi lupa
diri dan terjatuh.
o
Ari : “kau kenapa sampai jatuh,bodoh !?”
o
Andi : “tidak ada apa-apa, hanya saja
siapa cwek itu?”
Andi menunjuk gadis yang diliriknya dan ari
mengikuti arah telunjuk andi dan tesrenyum geli
o
Ari : “ oh... dia anaknya kong ayong ,
jadi kau jatuh gara-gara melihat dia ya!hahaha”
o
Andi : “enak saja! Tapi mungkin saja!?”
Ari membantu andi untuk bangun, dan berjalan
bersama-sama menuju rumah masing-masing. Kebetulan sore ini lia pulang sedikit
terlambat , dan andi duduk didepan rumah menunggu kepulangan lia kerumah.
Beberapa saat lia datang bersama seorang perempuan, berambut pendek seperti
anak kong ayong, andi kira salah lihat ternyata benar anak kong akyong.
o
Lia : “ Assalammualaikum!”
o
Andi : “walaikumsalammm!” sambil menatap
anak kong ayong.
o
Lia : “kak kenalkan ini , sintia, dia
anaknya kong ayong, shintia kenalkan ini kakakku andi !”
Shintia menyalami tangan andi dengan tersenyum
senang, tapi yang dirasakan andi hanya kemaluan yang luar biasa tangannya
berkeringat sambil mengucapkan nama lengkapnya
o
Andi : “ muhammad andi sugi. Salam
kenal”
o
Shintia : “shintia ananda”
o
Lia : “shintia, apakah kau ingin bermain
dirumahku!?”
o
Shintia : “maaf tapi aku punya acara
malam ini, maaf ya! Lia. Kapan-kapan saja deh!”
Lia menganggukan kepala dan shintia pergi
mengundurkan diri untuk pulang , dan andi menatap kepergian shintia dengan
antusias. Sampai shintia hilang dibelokan gang. Lia menatap andi yang masih
memperhatikan kepulangan shintia.
o
Lia : “kak , kau kenapa menatap shintia
sampai begitu?”
o
Andi : “tidak ada apa-apa, mungkin nanti
ada uang yang tercecer, bukannya kong ayong
itu kaya, mungkin saja anaknya membawa
banyak uang !”
Lia tertawa mendnegar lelucon andi, andi bernafas
lega karena dia tak ketahuan oleh andi, tapi andi masih penasaran dengan anak
kong ayong dan bertanya berbagai macam pertanyaan tentang shintia.
o
Andi : “menurut kamu anaknya kong ayong
itu baik tidak?”
o
Lia : “dia sangat baik dan tidak pelit
dengan orang sekitar seperti ayahnya!”
o
Andi : “lalu dia anaknya ,sekolah
tidak?”
o
Lia : “tentu saja kan dia kaya, katanya
kalau orang miskin mau bersekolah , pasti orang
itu akan jadi orang sukses di masa depan , dan dia selalu menjadi anak nomer satu disekolah karena kepintarannya
dan kecantikannya!”
o
Andi : “jadi dia suka cowok yang sekolah
dan pintar ya..”
o
Lia : “apa kak?”
o
Andi : “tidak apa-apa!”
Hampir saja andi keceplosan karena masih teringat
dengan shintia.
Saat maghrib tiba keluarga andi sholat berjamaah
diruang tamu, lalu andi menatap langit malam dengan kaos oblong tipis.
Bintang-bintang membentuk wajah shintia, dalam pikiran andi bagaimana cara agar
dirinya mendekati anak kong ayong, sekolah tempat dimana andi dapat bertemu
dengan anak kong ayong.
Beberapa hari ini andi mendekati shintia, dan konga
ayong belum mengetahui apa yang dilakukan andi saat mendekati shintia, seperti
memberi bantuan shintia, bunga, permen coklat saat anak kong ayong marahan
dengannya.
Andi mengetahui banyak hal dari shintia dan andi
ingin belajar seperti shintia, dan andi sudah membeli sepatu but untuk ayahnya,
ayahnya pertama curiga bahwa andi mencuri sandal-sandal dimasjid untuk membeli
sepatu but tapi andi meyakinkan bahwa dia hanya mengamen tanpa makan siang.
Saat ibu andi sudah pulang andi mendekati ibunya dan
mengatakan pikiran andi saat ini
o
Andi : “ibu aku ingin sekolah!”
desahnya, ibunya kaget setengah mati
o
Ibu : “apa kau ingin sekolah,bukannya
dulu kau sangat benci sekolah, apa lagi melihat
sekolah saja tidak ingin, kok sekarang!?”
o
Andi : “aku ingin mengangkat derajat
keluarga kita ,bu ! aku tak ingin seperti ini terus
selama hidupku, berpanasan dibawah sinar matahari yang panas sekali”
o
Ibu : “jika ibu punya uang ibu pasti
akan kabulkan permohonan kecilmu ini , ibu sangat
ingin melihat anak ibu kerja digedung bertingkat dengan fasilitas ac”
Andi menatap ibunya yang hampir menangis, dan
mendesah aku tak akan kecewakan ibu lagi, aku janji. Ibu andi mendengar
samar-samar dan andi meninggalkan ibunya yang menanggis menahan kemarahan
kemisinan dengan keinginan.
Beberapa hari ini pak lurah dan kawan-kawan
(karyawan dikelurahan), mencari pencuri sandal yang sudah 1 minggu ini belum
diketahui , kong ayong juga membantu pak lurah mencari pencuri sandal padahal
kong ayong ingin menyingkirkannya saja, kan kalau sandal-sandal itu dijual jadi
saingan kong ayong.
Saat setyo bermain dengan adik shintia atau anak
kong ayong yang ke-4 , yang sudah berumur 12 tahun , dan melihat sandal yang
dikenakan setyo, dan bertanya dari mana setyo membeli sandal itu, dan
memberitahukan kepada kong ayong
o
Santio : “ ayah , aku melihat sandal
mirip dengan ayah, dan digunakan oleh setyo”
o
Kong ayong : “benarkah...? apa kau tidak
bohong?”
o
Santio : “ sejak kapan , tio membohongi
ayah. Dan kata setyo sandal itu beli di andi, emang
andi punya uang untuk modal ini seperti menjual sandal bagus kecuali dari mencuri ,yah!”
o
Kong ayong : “ tapi apa kau punya
bukti?”
santio menggelengkan kepala, kong ayong melihat
tatapan anaknya takut bersalah, kong ayong mulai menaruh kecurigaan pada andi.
Keesokannya kong ayong mendatangi rumah andi dengan
setyo dan sandal yang dibeli olehnya dari andi, dimana hanya ada ibunya andi
dan lia, ibu yani lalu ia mulai menceritakan segala hal yang telah dilakukan ,
setyo tak tahu menahu apa yang terjadi namun kong ayong membenarkan bahwa
sandal ini yang dibeli dari andi adalah sandal kepunyaannya yang ada ini sial
K.A (kong ayong maksudnya). Ibu yani menahan malu sesaat dan saat lia pulang,
ia langsung memberi perintah padanya untuk memanggil andi secepatnya saat itu
juga.
Dengan sekuat tenaga lia mencari beberapa jam lalu
ia menanyakan orang-orang disekitarnya yang melihat andi siang itu, ternyata
andi berada dipasar dengan ari yang sedang menjual sandal-sandal curian. Lia langsung
meminta andi pulang kerumahnya atau tidak ibu akan marah.
Dirumah ibu langsung menampar pipi andi.
o
Ibu yani : “kau ini kenapa melakukan
itu?, memang kita ini miskin tapi jangan sampailah kau mencuri ataupun
menghakimi orang lain!”
o
Andi : “ibu maafkan aku, aku sungguh
...!”
o
Ibu yani : “diam... kau tak berhak
berbicara, kau ini manusia bodoh dan ini semua salah ibu, kong ayong
terserahlah kau apakan anak ini. aku sudah tak kuat mendidiknya lagi!”
o
Kong ayong : “sebaiknya nak andi
mengembalikan sisa sandal curian, nak andi. Karena saya tidak tega membawa andi
ke polisi. Dan saya harap nak andi mau berubah dan saya akan membantu ibu yani
mendidiknya!”
o
Ibu yani : “terima kasih kong ayong ,
saya sungguh akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mendidiknya sebaik-baiknya
lagi”
Andi merasakan malu yang luar biasa dan menyuruh ari
untuk mengembalikan sandalnya secara diam-diam kepada pemilik semula, karena
andi tak ingin wajahnya tercoreng lagi dengan perbuatan yang merugikannya itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar